Chat
Showing posts with label Opini. Show all posts
Showing posts with label Opini. Show all posts

Commonwealth Life Perusahaan Asuransi Jiwa Terbaik Indonesia

Commonwealth Life Perusahaan Asuransi Jiwa Terbaik Indonesia
Apa itu Commonwealth Life?
Commonwealth Life merupakan perusahaan yang bergerak di bidang Asuransi Jiwa yang terbentuk sejak tahun 1992, pada awalnya bernama Astra Jardine dan nama yang kemudian berganti nama menjadi Commonwealth Life yang diperkenalkan untuk pertama kalinya pada Juli 2007.

INGIN CEPAT KAYA ? BURUAN NIKAH !

Pernikahan itu pasti indah, nyaman, dan menyenangkan. Itu garansi dari Allah ‘Azza wa Jalla, sebagaimana tertuang dalam firmanNya yang suci (Q.S 30:21). Apabila ada ungkapan “Pernikahan tidak selamanya indah”, pasti ada eror yang dilakukan oleh para pelaku pernikahan. Entah itu berupa pelanggaran atas rambu-rambu yang telah ditetapkan dalam proses pencapaiannya. Ataupun sikap manusia yang makin tidak apresiatif terhadap kewajiban universal dari Pencipta alam semesta ini. 


Islam memandang, pernikahan bukan saja sebagai satu-satunya institusi yang sah, tempat pelepasan hajat birahi manusia terhadap lawan jenisnya. Tapi yang tak kalah penting adalah, pernikahan sanggup memberikan jaminan proteksi pada sebuah masyarakat dari ancaman kehancuran moral dan sosial. Itulah sebabnya, Islam selalu mendorong dan memberikan kemudahan-kemudahan bagi manusia untuk segera melaksanakan kewajiban suci itu.”Dan nikahkanlah orang-orang yang sendirian di antara kamu dan orang-orang yang layak menikah dari hamba-hamba sahayamu yang laki-laki serta hamba-hamba sahayamu yang wanita. Jika mereka miskin, Allah akan membuat mereka kaya dengan karuniaNya. Dan Allah Maha Luas pemberianNya lagi Maha Mengetahui,” (Q.S 13:38) 


Dalam haditsnya, Rasulullah SAW juga menekankan para pemuda untuk bersegera menikah. “Wahai generasi muda, barangsiapa di antara kalian telah mampu menikah, maka segeralah menikah. Karena sesungguhnya menikah itu lebih menjaga kemaluan dan memelihara pandangan mata. Barangsiapa yang belum mampu, maka hendaklah ia berpuasa, karena puasa menjadi benteng (dari gejolak birahi)” (HR Bukhari). 


Dari sini makin jelas, kemana orientasi perintah menikah itu sesungguhnya. Tujuan pembentukan institusi-institusi pernikahan (keluarga) tak lain adalah, agar terpancang sendi-sendi masyarakat yang kokoh. Sebab keluarga merupakan elemen dasar penopang bangunan sebuah masyarakat. Dengan kata lain, masyarakat akan kuat dan kokoh apabila ditopang sendi-sendi yang juga kokoh. Dan kekokohan itu tidak mungkin tercapai kecuali lewat penumbuhan institusi-institusi keluarga yang bersih. 


Pasal kewajiban menikah adalah merupakan sunah Nabi SAW yang harus ditaati setiap Muslim, tidak akan kita bahas lebih jauh di sini. Begitupun soal pernikahan merupakan aktualisasi keimanan atau aqidah seseorang terhadap Tuhannya, juga tidak akan kita perpanjang dalam tulisan ini. Sehingga dia menjadi alasan mendasar Islam, kenapa pernikahan hanya sah jika dilakukan oleh pasangan manusia yang memiliki aqidah, manhaj (konsep) hidup, serta tujuan hidup yang sama. Yakni mencari keridhoan Allah ‘Azza wa Jalla. 


Ada sisi krusial lain dari pernikahan yang akan kita bahas lebih jauh. Yakni pernikahan dan kaitannya dengan peradaban manusia. Pasal ini yang mungkin jarang dicermati oleh kebanyakan masyarakat, termasuk masyarakat Islam. 


Bahwa ada korelasi kuat antara keberadaan institusi pernikahan dengan potret masyarakat yang akan muncul (seperti telah disinggung sebelumnya), adalah tidak bisa kita pungkiri. Sebab indikasinya gampang sekali dilihat dan dirasakan. Masyarakat yang menghargai pernikahan, pasti mereka merupakan masyarakat yang beradab. Demikian sebaliknya. 


Maka tatkala kita telusuri, apa penyebab masyarakat Barat menjadi masyarakat yang tumbuh liar tanpa nilai-nilai etika, moral, dan agama. Itu sangat mudah kita pahami. Lantaran mereka adalah masyarakat yang tidak memahami makna sakral pernikahan. Hasrat seksual menurut mereka, bisa mereka lampiaskan kepada siapa saja, di mana saja, dan kapan saja. Sehingga tak ada kaitan antara kehormatan dan kesucian seseorang dengan pernikahan. 


Dari sinilah awal munculnya masyarakat Barat yang tidak beradab. Mereka menjadi masyarakat pemuja syahwat, menawarkan budaya buka-bukaan aurat alias telanjang, memamerkan secara vulgar budaya hidup seatap tanpa menikah antara laki-laki dan wanita. Maka kasus-kasus perceraian kian tidak terhitung jumlahnya. Ribuan anak-anak lahir tanpa jelas nasabnya (garis keturunannya). Setelah besar, generasi tanpa bapak itu pun membentuk komunitas anak-anak jalanan yang selalu menimbulkan problem bagi masyarakat mereka sendiri. Dari situlah siklus budaya nista bermula. 


Ironisnya, dalam masyarakat Islam pun mulai muncul sikap yang kurang apresiatif terhadap perintah menikah. Jika tidak sampai dikatakan enggan menikah, setidaknya ada gejala masyarakat Islam mulai bersikap mengulur-ulur waktu pernikahan. Padahal ini sangat berbahaya. Boleh jadi gaya hidup hedonis Barat yang sangat intens disuguhkan lewat bacaan dan filem-filem, telah menyebabkan perubahan pola pemikiran masyarakat Islam. Khususnya dalam menyikapi perintah menikah. 


Inilah barangkali yang menyebabkan pasangan muda-mudi dalam masyarakat kita, lebih senang berlama-lama pacaran ketimbang memikirkan untuk serius membangun rumah tangga. Kalaupun di sana-sini marak acara-acara pesta pernikahan, itu mungkin tak lebih hanya sebuah basa-basi kultural. Semuanya terlepas dari ikatan nilai-nilai religius yang sakral. Sehingga kita sering menyaksikan pesta-pesta pernikahan, tak lebih hanya sebagai ajang pamer kemewahan dan bahkan pamer kemaksiatan. Sebab boleh jadi, sebelum pesta itu berlangsung mereka sudah menjalani praktek-praktek layaknya kehidupan suami-isteri. Astaghfirullah…! 


Kenapa Islam menggesa para pemuda untuk menikah, semakin jelas kita pahami. Bahwa di tengah maraknya budaya hedonisme yang menjangkiti dunia, sudah barang tentu institusi-institusi pernikahan kian dibutuhkan keberadaannya. Namun tentu saja bukan hanya memperbanyak lembaga-lembaga Robbani itu saja yang kita perhatikan. Tapi yang lebih penting adalah, bagaimana rambu-rambu suci untuk mencapainya, bisa tetap kita jaga. Sehingga banyaknya lembaga-lembaga pernikahan berbanding lurus dengan tumbuh suburnya budaya kesadaran masyarakat untuk memelihara kesucian diri. Dari keluarga-keluarga yang bersih inilah, kelak akan lahir generasi yang kokoh. 


Jika ini yang terjadi, dapat dipastikan janji Allah, bahwa masyarakat bisa makmur (kaya) dan kuat lewat jalur pernikahan, akan terbukti. Karena itu makin tertutup alasan bagi para pemuda-pemudi untuk tidak segera menikah, jika mereka nyata-nyata telah sanggup melaksanakannya. Dengan kata lain, sikap menunda-nunda untuk segera menikah di kalangan muda-mudi, memang sangat aneh. 


”Aku heran dengan orang yang tidak mau mencari kekayaan dengan cara menikah. Padahal Allah berfirman; “Jika mereka miskin, maka Allah akan membuat mereka kaya dengan KeutamaanNya,” kata Umar bin Khattab r.a. 


Ayo, tunggu apa lagi? Jangan tunda-tunda pernikahan! (sultoni)

MENIKAH ALA ISLAMI (Mudah, Murah, Banyak Manfaat, dan Berkah)

Adalah menjadi karakteristik khusus Islam bahwa setiap ada perintah yang harus dikerjakan umatnya pasti telah ditentukan syari'atnya (tata cara dan petunjuk pelaksanaannya). Maka tidak ada satu perintah pun dalam berbagai aspek kehidupan ini, baik yang menyangkut ibadah secara khusus seperti perintah shalat, puasa, haji, dan lain-lain, maupun yang terkait dengan ibadah secara umum seperti perintah mengeluarkan infaq, berbakti pada orang tua, berbuat baik kepada tetangga dan lain-lain, kecuali telah ditentukan syari'atnya.

Begitu pula halnya dengan menikah. Ia merupakan perintah Allah SWT untuk seluruh hamba-Nya tanpa kecuali dan telah menjadi sunnah Rasul-Nya, maka sudah tentu ada syariaatnya. Persoalannya, kebanyakan orang mengira bahwa syari'at pernikahan hanya mengatur hal-hal ritual pernikahan seperti ijab qobul dan mahar, sedangkan masalah meminang (khitbah), walimah (resepsi) dan serba-serbi menjalani hidup berumah tangga dianggap tidak ada hubungannya dengan syari'at. Maka tidaklah mengherankan jika kita menghadiri resepsi pernikahan seorang muslim dan muslimah, kita tidak menemukan ciri atau karakteristik yang menunjukkan bahwa yang sedang menikah adalah orang Islam karena tidak ada bedanya dengan pernikahan orang di luar Islam.

Lantas, memangnya seperti apa menikah ala Islam itu? Untuk membahasnya secara lengkap jelas tidak mungkin di sini, karena tema seperti itu berarti membahas mulai dari anjuran menikah, ta'aruf (perkenalan dua orang yang siap menikah), meminang, akad, resepsi sampai pergaulan suami istri yang para ulama untuk menulisnya memerlukan sebuah buku. Karena itu yang akan dibahas dalam tulisan ini adalah mengenai mahar dan penyelenggaraan resepsi (walimah). Bukan karena yang lain tidak penting, tetapi mengingat dalam dua hal inilah kebanyakan masyarakat muslim kurang tepat dalam persepsi dan pemahamannya.

Tentang Mahar

"Berikanlah mahar kepada perempuan yang kamu nikahi sebagai pemberian dengan penuh kerelaan ..." (QS An-Nissaa :4).

Mahar merupakan pemberian seorang laki-laki kepada perempuan yang dinikahinya, yang selanjutnya akan menjadi hak milik istri secara penuh. Dalam praktiknya tidak ada batasan khusus mengenai besarnya mahar dalam pernikahan. Rasulullah SAW sebagaimana disebutkan oleh Ibnu Qoyyim dalam kitabnya Zaadul Maad, memberi mahar untuk istri-istrinya sebanyak 12 uqiyah. Abu Salamah menceritakan, "Aku pernah bertanya kepada A'isyah ra, "Berapakah mahar Nabi SAW untuk para istrinya?" A'isyah menjawab, "Mahar beliau untuk para istrinya adalah sebanyak 12 uqiyah dan satu nasy." Lalu A'isyah bertanya, "Tahukah kamu, berapa satu uqiyah itu?" Aku menjawab, "tidak" A'isyah menjawab, "empat puluh dirham." A'isyah bertanya, "Tahukah kamu, berapa satu nasy itu?" Aku menjawab, "tidak". A'isyah menjawab, "Dua puluh dirham". (HR. Muslim).

Umar bin Khattab berkata, "Aku tidak pernah mengetahui Rasulullah SAW menikahi seorang pun dari istrinya dengan mahar kurang dari 12 uqiyah." (HR. Tirmidzi).

Dalam kisah lain Rasulullah SAW menikahkan putrinya Fatimah dengan Ali ra dengan mahar baju besi milik Ali. Diriwayatkan Ibnu Abbas, "Setelah Ali menikahi Fatimah, Rasulullah SAW berkata kepadanya, "Berikanlah sesuatu kepadanya." Ali menjawab, "Aku tidak mempunyai sesuatu pun." Maka beliau bersabda, "Dimana baju besimu? Berikanlah baju besimu itu kepadanya." Maka Ali pun memberikan baju besinya kepada Fatimah. (HR Abu Dawud dan Nasa'i).

Bahkan ketika seorang laki-laki tidak memiliki sesuatu berupa harta yang dapat diberikan sebagai mahar, Rasulullah SAW tidak menolak untuk menikahkannya dengan mahar beberapa surat dalam Al-Qur'an yang dihafalnya. Dikisahkan ada seorang laki-laki yang meminta dinikahkan oleh Rasulullah, tetapi ia tidak memiliki sesuatu pun sebagai mahar, walaupun sebuah cincin dari besi. Kemudian beliau bertanya kepadanya, "Apakah engkau menghafal Al-Qur'an?" Ia menjawab, "Ya, aku hafal surat ini dan surat itu (ia menyebut beberapa surat dalam Al-Qur'an). "Maka beliau bersabda, "Aku menikahkan engkau dengannya dengan mahar surat Al-Qur'an yang engkau hafal itu!" (disarikan dari hadits yang sangat panjang dalam Kitab Shahih Bukhari Jilid IV, hadits no. 1587).

Jadi, dapat disimpulkan bahwa tidak ada batasan tentang bentuk dan besarnya mahar, tetapi yang disunnahkan adalah mahar itu disesuaikan dengan kemampuan pihak calon suami.

Tentang Walimah (Resepsi Pernikahan)

Walimah merupakan sunnah, diadakan dengan tujuan agar masyarakat mengetahui pernikahan yang berlangsung sehingga tidak terjadi fitnah di kemudian hari terhadap dua orang yang menikah tersebut. Sedangkan mengenai tata cara penyelenggaraannya, syariat memberikan petunjuk sebagai berikut:

Khutbah sebelum akad
Disunnahkan ada khutbah sebelum akad nikah yang berisi nasihat untuk calon pengantin agar menjalani hidup berumah tangga sesuai tuntunan agama.

Menyajikan hiburan
Walimah merupakan acara gembira, karena itu diperbolehkan menyajikan hiburan yang tidak menyimpang dari etika, sopan santun dan adab Islami.

Jamuan resepsi (walimah)
Disunnahkan menjamu tamu yang hadir walaupun dengan makanan yang sederhana. (Dari Anas bin Malik ra bahwa Nabi SAW telah mengadakan walimah untuk Shofiyah istrinya dengan kurma, keju, susu, roti kering dan mentega).

Diriwayat lain, Rasulullah SAW bersabda kepada Abdurrahman bin Auf, "Adakanlah walimah meski hanya dengan seekor kambing." Sedangkan mengenai batasan mengadakan walimah As-Syaukani dalam Nailul Authar menyebutkan bahwa Al Qadhi Iyadh telah mengemukakan bahwa para ulama sepakat tidak ada batasan khusus untuk walimah, meski diadakan dengan yang paling sederhana sekalipun diperbolehkan. Yang disunnahkan adalah bahwa acara itu diadakan sesuai dengan kemampuan suami.

Masih banyak pelajaran lain yang bisa dipetik berkaitan dengan acara walimah ini, yang membuat kita sampai pada satu kesimpulan bahwa menikah dengan cara Islam ternyata memang mudah, murah dan berkah!

Tulisan ini pernah dimuat dalam Majalah Safina No.7 Tahun I, September 2003

SIAPA TAKUT JADI AKHWAT ?

Kesannya kok serem banget. Susah banget jadi ikhwah itu. Palagi sampe jadi aktivisnya. Sehingga sampai harus berpikir dua kali ketika diajak bergabung halaqoh atau masuk ke dunia ikhwah. Itu kesanku ketika beberapa kali mengalami penolakan ketika mengajak orang untuk bergabung dengan kafilah dakwah ini. Hanya untuk mengikuti kajian rutin saja, mereka menolak. Ada apa sih ? Toh..sebenarnya itu semua untuk kepentingan mereka sendiri. Jawabannya, kadang belum siap, takut, serem dll. Mang susah ya jadi ikhwah itu ?

Bahkan ketika lebaran kemarin…mantan gengku waktu SMA silaturahim ke rumah…aku sempat bertanya, kenapa sih kok ga jadi ikhwan ? Padahal kan di Perguruan Tinggi favorite tempat mereka dulu kuliah kutahu marak banget kegiatan keislaman seperti yang kukenal. Sapa yang ga ngerti UI, UGM, ITB, IPB ? Eh..jawabannya tak terduga, ..serem katanya !

Mosok serem sih ? Perasaan biasa aja sih..sesuai dengan fitrah kita sebagai hamba Allah. Ga ada yang menyimpang sama sekali kok ! Eh malah di timpalin...iya kamu aja yang akhwat jadi-jadian jadi tidak seperti itu ! Weleh perlu tersinggung nih.... Mang seperti apa sih yang ikhwah sungguhan ? tanyaku...

Katanya...Jadi ikhwah itu menyeramkan ! Tidak boleh ini, tidak boleh itu...pokoknya yang bau dunia yang ‘indah-indah’ tidak ada dalam kamus mereka. Pokoknya harus seriuuuuuuuusss mulu ! Kaku, pokoknya isinya cuma ngaji, ngaji dan ngaji aja. Hehehe...tak tahu dia...

Lihat konser musik ga boleh, pacaran ga boleh, pake baju yang seksi ga boleh. Wis pokoknya hidup mesthi lurus-lurus aja ! Aku cuma nyengir doang...habisnya aku ga ngerasa githu sih..aku ga ngerasa kalo jadi akhwat itu susah, yang terikat dengan begitu banyak aturan, dan lain-lain, yang akhirnya seakan hidup kita jadi ga enjoy blass...adanya cuma tilawah, ngaji, jihad, dakwah..dll. Mang bagian itu iya, tapi ga mulu itu aja deh perasaan.

Kalo ga boleh pacaran (ngedeketin zina), harus pake jilbab, ga boleh mabuk-mabukan, ga boleh makan barang haram,..itu sih, ga jadi ikhwah pun ya memang harus seperti itu aturan mainnya. Kecuali kalian bukan mengaku beragama islam, yang berpedoman pada al qur’an dan as sunah. Itu sih..aturan yang memang dari sananya dah cetho welo-welo yang ga butuh penafsiran lain.

Tapi ketika pagi tadi tak pikir-pikir...memang ada sih beberapa ‘etika’ di ikhwah yang akhirnya jadi menimbulkan kesan, kalau jadi ikhwan atau akhwat tuh susaaaaaahh banget. Itu ‘etika juga ga jelas siapa yang tandatangan sebenarnya. Tapi jadi seperti pakem. Yang sering juga aku dibuat keqi dengan ‘etika’ itu. Mungkin sering kenanya itu kali..

Aku mungkin masuk dalam kategori akhwat jadi-jadian itu kali ya..jadi sering kena tegur, taujih atau sindiran atau malah jadi sumber gara-gara. Lupa aku, berapa kali harus berurusan sama yang seperti itu. Ups..berarti ndableg bener aku ya..Weleh.... Juga aku baca beberapa artikel yang menyayangkan atau ga setuju dengan akhwat atau ikhwan yang ‘keluar jalur’ dari jalur etika umum itu.

Diantaranya pernah ada yang protes dengan hobi kami. Waktu itu olahraga rutinku masih tenis lapangan dan renang, Aku memang sukanya memang rame-rame. Aku ajak aja adik-adik untuk bergabung. Hasilnya ? Hame pasti…! Eh, ada beberapa suara yang tidak suka dengan olahraga kami. Akhwat itu ga pantes renang, atau tennis di lapangan githu… nanti kalau kelihatan laki-laki gimana ? Mendhing buat kegiatan yang pantes githu lho…masak kek, jahit atau yang lainnya. Coba buat baca buku..dapet berapa aja tuh ?

Aku termasuk yang sewot. Kok segithunya sih? Memangnya kita-kita jadi tidak baca buku hanya karena tennis atau renang. Lagian kita juga dah mikir lah…aturannya juga kan tidak kami langgar, renangnya juga kan tidak campur ma laki-laki. Renangnya juga pake baju panjang dan jilbab.

Juga pas tennis, juga ga campur sama lain jenis githu, nutup aurat juga. Kalo ada kepergok laki-laki (yang jaganya)..biasanya yg tadinya teriak-teriak pasti akan segera berubah sikap, jadi kalem..hehehe..

Juga soal jilbab ceria yang beberapa kali kubaca dari beberapa majalah. Intinya tidak pantes banget akhwat tuh pake baju ceria githu. Penyebab fitnah, malah ada yang menyindir dengan istilah akhwat high class.

Aku pengalaman hampir tiap kali dapat sindiran kalau lagi pakai baju kantor. Akhwat…baju kok genjring banget githu lho… Ya, gimana lagi, seragam kantorku memang dah gini, senin hitam putih, selasa orange cerah (lihat tablet fitamin Vit C, lihat bajuku deh..), rabu merah (bukan sembarang merah, tapi merahnya merah ), kamisnya hijau segar, Jum’atnya karena aku piket TPT, dapet seragam batik kuning cerah. Kebayang kan betapa cerianya hari-hariku ?

Karena ga betah dengan sindiran soal cerianya baju ngantorku, aku siasati pake jilbab hitam, berharapnya nyala bajuku bisa keredam. Weh..tapi akhirnya ga betah juga..mosok dari senin sampai jum’at, jilbab hitam mulu karena biar matching ma roknya ? Dan pakai jaket kalau ada acara ikhwah pas jam-jam kantor. Itu aja masih aja kena sindir karena jilbabnya yang ceria itu. Tapi lama-lama EGP aja..mang akhwat mesthi bajunya gelap aja?

Juga, beberapa pakem, seperti.. ga ahsan pake jaket dan jilbab dimasukin. Atau juga pernah ada julukan akhwat selebritis untuk akhwat-akhwat kampus yang pakai tas gamblok di punggung.

Rese’ banget ya…dan susah banget githu kesannya mo jadi akhwat. Pa lagi kalo yang ngikut anggapan, musik/nasyid haram, fiksi haram, ini itu ga boleh.. bid’ah ! Byuh..tentu lebih jauh lagi. Pa iya sih..syariat islam itu begitu susahnya dan begitu seramnya. Yang kutahu sih..islam itu indah dan membahagiakan yang memeluknya.

Kalau itu tidak melanggar syari’ah..atau masih berkutat pada masalah yang masih khilafiyah (ada perbedaan pendapat) ..napa mesthi kita ribuuuuuut mulu? Jadi menimbulkan kesan mo jadi ikhwan atau akhwat aja kok susah banget. Akhirnya malah terjebak pada masalah yang tidak esensial. Lebih ngributin akhwat berjilbab ceria daripada prihatin dengan kasus dilarangnya pakai jilbab yang nyar’i di beberapa instansi misalnya.

Aku tidak menafikkan bahwa da’wah ini, tidak akan terhasung kecuali oleh orang- orang yang senang mengambil rukhsah (keringanan). Tapi apa iya sih, orang-orang yang serius itu jadi sebegitu kakunya ? Sampai –sampai kehilangan oase jiwa, romantisme dan rasa seni dalam dirinya.

Yang tawazun aja lah…tapi juga jangan terlalu sak kepenak e dewe. Memang lucu sih…kalau hanya dateng ke taklim aja, dandannya seperti mau ke pesta walimahan. Memang mata jadi sepet juga mandangnya kan ? Kasihan juga lah ma ikhwan yang tersepona.Tahu tempat aja lah..

Atau bernasyidnya mengalahkan tilawahnya. Baca komiknya, novel, dll..mengalahkan buku-buku yang menambah tsaqoffah islamiyahnya. Koleksi bukunya kalah sama koleksi barang lucunya.

Atau segithu kencengnya menjaga hijab, sampai cara ngomongnya lebih mirip ngebentak daripada sekedar ngomong. Judes amat …biasa ajalah. Suer, mengalir ajalah…nikmat kok jadi akhwat tuh..selamat dunia akhirat deh. Dan ga akan ada istilah bosan jadi akhwat (istilah lainnya futur ngono lho..) buktiin deh..

Eit's...tunggu, aku nulis ini bukan hendak membela diri, aku mang dah stelannya begini. Gi mati-matian berproses. Atau juga aku apriori ma ikhwan akhwat yang jempolan itu, dan mempengaruhi yang lain untuk tidak seperti mereka. Bukan ! Kepada mereka yang lurus-lurus aja, aku acungin lima jempol deh..(satu pinjem temen bentar ya..). Aku malah suka membayangkan yang indah-indah soal sampeyan lho...Suer !

Kalau nasyid aja diharamkan, fiksi diharamkan, wah..tahu tidak, bayanganku soal sampeyan itu, tilawahnya sehari bisa berjuz-juz, hafalan qur'annya wuih..ga kebayang dah. Soalnya kan ga mungkin mengharamkan nasyid, tapi menikmati DEWA atau Peterpan kan ? Fiksi haram, Pi Harry Potter jalan...kecuali kalau semua itu cuma wacana doang. Ilmu tanpa amalan.

Pokoknya wuih aja deh... kalau tidak sampai seperti itu, lha waktu yang begitu banyak, buat apaan aja ? buat tidur dan bengong aja ? atau habis buat...hm..hm..jiddal ya ? hehehe..afwan..ga kebayang githu lho..

Soalnya, sodaraku yang anggota tim nasyid tenar aja, suka konser kemana-mana, bisa tilawah seharinya lebih dari satu juz, hafalan qur'an lebih dari lima juz. Juga ikhwah yang suka demo, amanah banyak aja baca bukunya bisa begitu banyak. Pakai logika wong bodo aja sih aku..

Salut kok dengan ikhwah yang model lurus-lurus githu..dah pinter, aktivis, hijabnya kenceng..pokoknya yang indah-indah deh... Tapi bukan berarti kami-kami yang masih merangkak tidak berhak untuk gabung di kafilah dakwah ini kan ? Karena kuyakin..islam itu indah, tidak mesthi seragam lah semuanya itu..pi berproses githu lho..dan sepertinya juga tidak harus seperti pakem itu lah..(hehehe..itu menurutku seh... Jadi ikhwah itu sesuai fitrah kok...jangan ngeri lah !

So, sapa takut jadi akhwat ? Jadi aktivis sekalipun,…enjoy aja lagi !
 
Oleh : Atik 

MUSLIMAH MANJA

Sebenarnya serba salah juga sih ya menyikapinya. Perlu atau tidak disalahkan. Atau siapa yang perlu disalahkan juga tidak jelas. Atau akunya yang bermasalah dengan sudut pandangku ? Bisa jadi. Itu lho tentang model akhwat dan Ummahat ‘manja’.

Aku termasuk yang paling gregetan dengan tipe-tipe seperti itu. Manja dan tidak mandiri. Kalau masalahnya karena memang tidak bisa atau karena masalah yang benar-benar tidak bisa diubah..aku bisa maklum kok. Tetapi kalau faktornya malas belajar dan kurang tekadnya..Hiiiiihh…gregetan aja bawaannya. Kalau anak kecil pingin juga ngejitak deh !

Pernah Ikhwan teman sekantorku kecelakaan. Hampir dua bulan beliau tidak bisa ngantor. Kendaraan yang beliau punya ‘hanya’ sepeda motor. Penghasilan utama hanya dari gaji dan TC aja. Dan rumah di Luar kota. Tiga anaknya semua sekolah didalam kota karena memang selama ini masalah transport tidak masalah, setiap hari bareng abinya.

Selama tidak ngantor otomatis kan tidak mendapat TC..so, harus pandai-pandai mengatur uang belanja. Beliau minta tolong padaku untuk antar jemput anak-anaknya. Jadilah dua bulan penuh aku bolak balik antar jemput anak-anak itu. Secara ukhuwah, aku berterimakasih sekali diberi kesempatan ladang amal seperti itu yang akhirnya memang mendekatkan hati-hati kami.

Tapi aku melihat ketidakefektifan di sini. Selama beliau tidak bisa mengendarai sepeda motor, istrinya kemana-mana naik becak. Dan antar jemput anak-anak harus di lakukan oleh akhwat lain kalau tidak berarti harus boros di ongkos jika naik angkot. Padahal sepeda motor di rumah menganggur dan istri dalam kondisi sehat wal afiat.

Yang membuat aku tidak mengerti, ketika aku minta ijin untuk mengajari ummahat itu naik motor, beliau tidak mengijinkan, dengan alasan kasihan sama istrinya kalau harus mengendarai sepeda sendiri. Takut kecelakaan dan lain sebagainya. Pusing juga..afwan..aku bingung dengan jalan pikiran ikhwan.

Sama ketika aku minta ijin kepada seorang ikhwan untuk mengajari istrinya bawa mobil. Beliau tidak mengijinkan. Memang semenjak beliau melanjutkan S2nya di Surabaya ..aku jadi punya profesi sampingan… jadi sopir pribadi. Ayahnya yang dalam kondisi sakit dan harus sering ke dokter..tidak bisa tidak harus diantar pakai mobil kemana-mana.

Bukan ingin mengeluh. Tapi kadang timbul kasihan kalau kebetulan aku tidak bisa membantunya, dan tidak ada yang bisa dimintai tolong lagi, akhirnya ke dokternya tertunda. Beberapa kali sih..berkhayal, coba mbaknya bisa bawa mobil..kan lebih meringankan..batinku.

Pernah juga, ketika aku iseng main ke rumah ummahat. Wuih..keadaannya berantakan sekali. Cucian yang harus disetrika menggunung. Ketika tak tanya..mang kenapa Mbak kok belum disetrika ? Ternyata..setrikanya rusak. Beliau bilang..biasanya abinya yang suka mbenerin hal-hal seperti itu. Mau di bawa ke tukang servis tidak sempat karena anak-anak tidak bisa ditinggal. Sedang abinya sedang ada urusan dakwah(jaulah) selama seminggu. Ternyata ketika kulihat…weleh…kabelnya lho hanya terlepas sebelah. Di buka, sambung, selotip. Beres deh…

Ada lagi..yang lucu dan bikin terharu. Berhari-hari aku memergoki seorang ummahat bolak-balik ke warung makan. Membeli nasi dan lauknya. Padahal menurut perkiraanku penghasilannya ‘tidak mengijinkan’ untuk seperti itu. Ketika iseng tak godain..ga masak tho Mbak..marung mulu nih ?

Beliau bilang..iya dhe’..habisnya kompor di rumah sudah tidak bisa menyala sih. Nunggu Abinya aja deh buat mbenerinnya…Hah ? Kaget juga sih..hanya nyabutin sumbu kompor aja tidak bisa ? Mau nunggu abinya ? Bukankah waktu itu Abinya sedang jadi sukarelawan ke Aceh…sebulan lagi ! Akhirnya…dengan prihatin..kita-kita juga yang akhirnya nyabutin sumbu kompor itu.

Menjadi Ummahat atau Akhwat yang manja memang bukan melanggar syari’at. Juga buat para suami..memanjakan istri..tidak boleh ini tidak boleh itu juga bukan suatu yang dilarang agama. Atau mungkin malah di anjurkan kali ya ? (mosok sih ? gini nih pertanyaan akhwat yang belum pernah merasakan dimanja suami…hehehe..)

Buat kita-kita akhwat yang pengangguran..seneng-seneng aja sih menolong kesulitan saudara. Itu kan ladang amal buat kita-kita. Indahnya ukhuwah memang diantaranya seperti itu.

Hanya, kalau dari sudut pandangku…kemanjaan kita sering sekali menyulitkan kita sendiri. Aku termasuk yang punya anggapan kita harus mandiri. OK lah ..mau dibilang narsis ya ga papa deh.. Atau kalau memang terpaksanya suami kita tipe baru merasa ‘jadi suami’ kalau kita repotin dan kita tergantung padanya..ya kalau pas ada dia..kita bersikap manja aja..apa-apa minta tolong suami..seberapa repot sih jadi istri yang manja ? (Hehehe..soalnya aku tipe yang suka memanfaatkan sifat ga tegaan Ayah sama Masku sih..)

Ada masanya..kita harus mandiri. Apalagi tipe suami yang pegawai macam kita-kita. Yang berpindah-pindah terus-terusan. Atau yang punya pasangan yang aktif di dakwah. Sering beliau harus meninggalkan rumah untuk jaulah beberapa hari. Atau seperti keadaan-keadaan yang tak pernah di duga seperti peristiwa tsunami aceh, banyak ikhwan kita yang ke Aceh sebulan atau bahkan lebih.

Untuk akhwat yang masih punya banyak waktu luang, gunakan waktu untuk banyak belajar. Belajar apa saja. Karena sangat bisa jadi, ilmu itu tidak langsung kita terapkan tapi sangat dibutuhkan entah berpuluh tahun yang akan datang. Sangat bisa jadi. Kalau ilmu itu sudah kita kuasai, pastilah akan lebih memudahkan kita. Lha daripada waktu habis buat mikirin kapan nikah..kan mending belajar apa kira-kira ilmu yang dibutuhkan setelah pernikahan tho ? hehehe..

Pernah membaca Ikhwanul Muslimin dalam masa tribulasi ? Ketika para Ikhwan di penjara berkali-kali dan masa yang cukup lama, bertahun-tahun. Pernah sekedar membayangkan tidak bagaimana cara ummahat dan akhwat itu bertahan tanpa ikhwan –ikhwan mereka ? Mencukupi, menghidupi diri dan membesarkan anak-anaknya ? kehilangan sumber maisyah, kehilangan orang yang selama ini siap membantu ?

Bukan hendak menakut-nakuti..tapi bukankah kita sendiri sadar bahwa ujian dalam dakwah adalah sunnatullah ? Mihnah dalam da’wah adalah cara paling efektif dari Allah untuk memurnikan dakwah itu dari orang-orang yang benar-benar ikhlas berjuang untuk kalimat Allah dengan yang hanya lil..yang lain. Karena orang yang berjuang bukan karenna Allah..tentunya akan segera mundur ketika menemui ujian-ujian dalam dakwahnya.

Pada saat seperti itu ..kadang aku berpikir, dimanakan posisiku ? Menjadi beban yang semakin memberatkan beban jamaah dengan ketidakmandirian dan kemanjaan kita ? Atau merupakan bagian dari beliau-beliau yang mampu memberi kontribusi untuk meringankan beban dakwah ? Yang jelas…semoga Allah mengijikan kita semua untuk menempati posisi yang mampu meringankan beban kita sendiri dan beban jama’ah…amien. Wallahu’alam bishowab !

Oleh : Atik

jember, 10.00

buat sodara2ku..afwan jiddan..bukan menganggap kebanyakan ummahat itu manja..peristiwa2 itu hanya bagian dr kepingan masa dlm hidupku..aku yakin, lebih banyak ummahat yg mandiri..dengan tarbiyah ini..aku yakin, telah mampu membentuk antum semua menjadi pribadi2 yg kuat..goresan ini hanya untuk bahan renungan saja… masalah setuju ga setuju kan wajar aja ..ya kan ?

Kenapa Pria diharamkan memakai emas !!!• (ISLAM TOP BANGET...:) )

Inilah tinjauan ilmiah atau analisa medisnya.. Para ahli fisika telah menyimpulkan bahwa atom pada emas mampu menembus ke dalam kulit dan masuk ke dalam darah manusia, dan jika pria mengenakan emas dalam jumlah tertentu dan dalam jangka waktu yang lama, maka dampak yang ditimbulkan yaitu di dalam darah dan urine akan mengandung atom emas dalam prosentase yang melebihi batas ( diikenal dengan sebutan
" Migrasi Emas " )

Dan apabila ini terjadi, maka akan mengakibatkan penyakit Alzheimer. Alzheimer adalah suatu penyakit dimana orang tersebut kehilangan semua kemampuan mental dan fisik serta menyebabkan kembali seperti anak kecil. Alzheimer bukan penuaan normal, tetapi merupakan penuaan paksaan atau terpaksa. Dan mengapa Islam membolehkan wanita untuk mengenakan emas ? Wanita tidak menderita masalah ini karena setiap bulan, partikel berbahaya tersebut keluar dari tubuh wanita melalui menstruasi.

Ternyata Islam begitu hebat !. Dilarang oleh rasulullah ternyata karena ada dampak negatif. Padahal dulu, 1400 tahun yang lalu, belum ada para ahli fisika, tetapi Rasulullah sudah tahu.
Wallahu a'lam.

Silahkan dishere, Semoga bermanfaat..^^  ( Tulisan Mukhlis)

HIJAB (Islam mengangkat derajat perempuan dan mengharapkan mereka menjaga status mereka)

By: Agus setiawan
Islam mengangkat status perempuan dan memberi hak-hak yang adil sejak 1400 tahun lalu. Islam mengharapkan perempuan menjaga status mereka.
Hijab bagi laki-laki
Biasanya orang hanya membicarakan hijab dalam konteks perempuan. Padahal, dalam Al-Qur'an, Allah terlebih dahulu menyebutkan hijab bagi laki-laki sebelum hijab bagi perempuan. Dalam Al-Qur'an Allah berfirman yang artinya:
"Katakanlah kepada orang laki-laki yang beriman, hendaklah mereka menahan pandangannya, dan memelihara kemaluannya; yang deikian itu adalah lebih suci bagi mereka, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang mereka perbuat." (An-Nur: 30).
Pada saat laki-laki memandang perempuan dan mucul pikiran kotor di benaknya, dia harus menundukkan pandangan.
Hijab bagi perempuan
Ayat selanjutnya dari surat An-Nur diatas menyebutkan,
"Katakanlah kepada wanita yang beriman, hendaklah mereka menahan pandangannya, dan kemaluannya, dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) tampak darinya. Dan hendaklah mereka menutupkan kain kudung ke dadanya. Dan janganlah menampakkan perhiasannya kecuali kepada suami mereka, atau ayah mereka, atau ayah suami mereka, atau putra-putra mereka…"(An-Nur: 31).
Enam kriteria hijab
Menurut Al-Qur'an dan sunah ada enam kriteria dasar bagi hijab:
  1. batas
kriteria pertama adalah batas-batas tubuh yang harus ditutupi. Kriteria ini berbeda untuk laki-laki dan perempuan. Batas wajib menutup aurat bagi laki-laki adalah setidak-tidaknya dari pusar hingga lutut. Bagi perempuan, batas wajib menutup aurat adalah seluruh tubuhnya kecuali wajah dan telapak hingga pergelangan tangannya. Jika mau, mereka boleh menutup bagian-bagian itu. Beberapa ulama' berkeyakinan bahwa wajah dan telapak tangan termasuk dalam cakupan hijab.
Lima kriteria selanjutnya sama berlaku bagi laki-laki dan perempuan
  1. pakaian yang dikenakan harus longgar dan tidak boleh menampakkan lekuk tubuh.
  2. pakaian yang dikenakan tidak boleh tembus pandang hingga tampak bayangan tubuh bagi orang yang memandangnya
  3. pakaian yang dikenakan tidak boleh berlebihan hingga menarik perhatian lawan jenis
  4. pakaian yang dikenakan tidak boleh menyerupai pakaian lawan jenis
  5. pakaian yang dikenakan tidak boleh menyerupai pakaian orang kafir, artinya mereka tidak boleh mengenakan pakaian yang merupakan identitas khusus atau symbol-simbol agama orang kafir
hijab juga meliputi perbuatan dan perilaku
hijab utuh, selain enam kriteria untuk pakaian, juga mencakupi akhlak, perilaku, sikap, dan perhatian orang per orang. Orang yang memenuhi kriteria hijab pakaian mematuhi ketentuan hijab dalam pengertian terbatas. Hijab pakaian harus disertai hijab mata, hijab hati, hijab pikiran, dan hijab niat. Hijab utuh juga meliputi cara berjalan, cara bicara, cara perilaku, dan sebagainya.
Hijab mencegah pelecehan seksual
Alasan hijab diwajibkan bagi perempuan disebutkan dalam Al-Qur'an surat Al-Ahzab yang artinya sebagai berikut:
"Hai Nabi, katakanlah kepada istri-istrimu, anak-anak perempuanmu, dan istri-istri orang mukmin, hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka. Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak diganggu. Dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang."(Al-Ahzab: 59)
Al-Qur'an mengatakan bahwa hijab diwajibkan bagi perempuan agar mereka dikenali sebagai perempuan terhormat dan ini mencegah mereka agar tidak dilecehkan.

Sadar atau Tidak, Facebook = Wall Ratapan Yahudi


Sebelumnya mohon maaf, ini hanya bahan instropeksi saya pribadi khususnya dan teman2 pada umumnya.. Benarkah Wall Facebook sama dengan Dinding Ratapan Yahudi?  Wall khan Artinya dinding/tembok,
Kirim Update Info Terbaru Untuk
Sobat InfoAgus Langsung ke Email Sobat !